Sudahkah Kamu Bergabung Di Komunitas Pak Rizky? [View|Join Now]

7.07.2008

Ekskavasi Situs Pantai Ulin

. 7.07.2008



Sebelum menulis artikel ini, mungkin kayaknya udah terlambat banget saya memposting tulisan ini. Karena kegiatannya sendiri berlangsung pada tanggal 7-10 Juni 2008 atau hampir satu bulan yang lalu. Namun lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali kan?he.. Banyak cerita yang saya alami ketika melakukan penggalian atau bahasa kerennya ekskavasi (minjem istilah arkeologi) di situs Pantai Ulin (Kandangan, Hulu Sungai Selatan). Nggak pernah terbayangkan sebelumnya karena banyak hal yang saya anggap begitu berkesan sekaligus bikin saya berimajinasi. Sebenarnya sih kami baru aja belajar cara-cara bagaimana melakukan ekskavasi sesuai prosedur yang berlaku. Nah, untuk itu saya dan teman-teman merasa tertantang karena telah diberi kepercayaan untuk membimbing teman-teman satu angkatan maupun adik-adik angkatan dalam melakukan ekskavasi. Pada intinya saya dan teman-teman masih belajar, apabila ada kesalahan mohon dimaklumi yaa?he…

Sebelum berangkat, saya dihadapkan pada cuaca buruk kota Banjarmasin dimana pada siang harinya hujan turun dengan lebatnya. Padahal disuruh ngumpul tepat jam 1 teng di depan gerbang Unlam! Karena dikejar waktu, saya nekad berangkat (dianterin kakak) tetapi ternyata basah juga ini badan karena disepanjang jalan Brigjend. Hasan Basry, hujannya lumayan lebat. Akhirnya keberangkatan kami tertunda hampir satu jam lebih. Kira-kira waktu menunjukkan pukul 3, saya dan rombongan bertolak dari Banjarmasin menuju Kandangan. Sepanjang perjalanan ternyata harinya kembali cerah, malahan panas banget cuacanya! Saya jadi heran sendiri kenapa tiba-tiba cuacanya berubah drastis? Mungkin kata orang-orang sih gara-gara global warming (istilah kerennya). Ketika melintasi Kab. Banjar hal yang tidak diduga-duga ternyata mampir. Dimana antrean mobil, truk, bus, dan kendaraan bermotor tampak panjang-panjangya, bak si Komo sedang lewat..he Hampir setengah jam lebih mobil yang kami tumpangi terjebak kemacetan. Hal ini dikarenakan oleh jalan yang kami lintasi ini merupakan jalur melintas truk pengangkut batu bara. Sudah macet, jalan yang kami lalui banyak yang bolong alias tidak rata. Ini yang membuat saya paling males kalo mau bepergian. Yang membuat saya terheran-heran kok jalan umum milik pemerintah bisa diobok-obok oleh kepentingan tertentu. Tapi sudahlah, tentu ada pihak yang lebih berhak membahasnya..

Tidak terasa hari sudah semakin gelap, rasanya badan ini sudah mulai terasa penat karena lama duduk di mobil. Akhirnya azan magrib telah tiba, mobil kami tiba-tiba menepi untuk berhenti. Saya dan rombongan pun beristirahat sebentar di Tambarangan (Kab. Tapin). Saya pun dan Septha (teman satu mobil) menuju sebuah langgar yang terdapat di jalan raya untuk menunaikan ibadah shalat magrib. Setelah selesai shalat kami pun mengisi perut yang udah terasa keroncongan disebuah rumah makan. Setelah makan, saya dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar hampir 1 jam akhirnya mobil yang kami tumpangi sudah sampai di kota Kandangan. Tampak didepan SMA 1 Kandangan telah nampak teman kami yang sudah duluan datang, menunggu kedatangan kami untuk mengantarkan kami pada lokasi yang akan dituju. Ternyata saya dan rombongan terlebih dahulu singgah di rumah kakak angkatan kami yang sedang bikin hajatan karena beliau (Kak Ikhwan) sedang merayakan hari perkawinannya.

Singkat cerita akhirnya saya dan rombongan tiba juga di lokasi. Tepatnya kami singgah disebuah rumah kediaman salah satu penduduk. Rencananya kami akan menginap dirumah beliau. Setelah menurunkan berbagai barang bawaan, saya beristirahat sejenak sembari berbincang-bincang dengan teman. Karena hari hampir menjelang larut malam, saya pun menyiapkan tempat untuk beristirahat sekalian buat tidur. Alhasil, ternyata saya dan sebagian teman laki-laki kebagian tidur di teras rumah, soalnya didalam rumah tempatnya tidak memungkinkan lagi karena penuh dan sesak. Ternyata kami tidak sendirian tidur di depan teras rumah, karena salah satu dosen kami (Pak Anis) ikut pula tidur didepan teras. Makin seru saja perbincangan dengan beliau, tak terasa malam makin larut. Setelah terlelap sebentar, saya terbangun dari tidur karena mendengar suara gaduh. Setelah dilihat teman-teman rupanya sedang asyik nonton bola, saya baru sadar rupanya malam ini ternyata pembukaan Euro 2008. Akhirnya saya pun tertarik juga nonton, tapi dasar badan udah kelelahan saya melanjutkan tidur kembali tanpa memikirkan skor pertandingan yang saya tonton tadi.

Keesokan pagi harinya (minggu), saya dan rombongan berangkat dengan berjalan kaki menuju lokasi yang akan di ekskavasi. Setelah meminta izin kepada orang tetuha kampung, selanjutnya kami pun meneruskan perjalanan. Di perjalanan saya lihat terdapat situs batu beranak, yang konon katanya bila dihitung oleh orang jumlah batunya pasti tidak sama. Tapi apa benar ya? Sejauh mata memandang terdapat hamparan sawah disisi kiri dan kanan jalan yang saya lewati. Namun mata saya menangkap sebuah bangunan tua, yang bentuk persisnya seperti rumah. Ternyata setelah ditanyakan dengan seorang tokoh masyarakat di desa tersebut, bangunan tua itu adalah masjid yang dikeramatkan. Namun orang-orang desa juga menyebut istilah lain yakni balai. Yang konon katanya setiap kali masyarakat desa melakukan kegiatan bercocok tanam maupun memanen hasil bercocok tanam, maka dilakukan sebuah ritual khusus dengan mengadakan pemotongan hewan, berupa sapi. Kemudian dilengkapi dengan aneka macam sesaji, yang merupakan syarat dari ritual tersebut.

Akhirnya sampai juga di lokasi yang akan diekskavasi. Pertama-tama saya dan teman-teman membuat kotak ekskavasi, dengan pertama-tama mengukur panjang maupun lebar kotak ekskavasi. Setelah itu menentukan sudut/dinding kotak, sekaligus menentukan arah utara kotak maupun pembagiannya sesuai TP (tempat penggalian) masing-masing kelompok. Saya ternyata kebagian membimbing kelompok 3. Singkat cerita dengan patokan penggalian berdasarkan tekhnik spit, maka ditetapkan sedalam 10 cm/spit. Dengan penuh semangat, kami melakukan penggalian. Pada spit pertama saya dan tim belum menemukan apa-apa,ditambah lagi keadaan tanah yang keras dan liat, sementara itu TP kelompok lain sudah membuahkan hasil penggaliannya. Namun saya tetap mengingatkan pada tim jangan terlalu melihat hasilnya, namun bagaimana cara melakukan ekskavasi yang sesuai. Pada spit 2 tim kami berhasil juga menemukan bentuk fragmen tembikar dengan jumlah yang sangat banyak. Namun ada beberapa fragmen tembikar yang unik, karena terdapat motif-motif yang khas. Pada spit 3 ditemukan pula beberapa hiasan yang berupa manik-manik, dan ternyata ada dua motif yang kami temukan yakni manik-manik yang terbuat dari tanah liat dan batu. Selain itu tekstur tanah agak lembut, karena terdapat tanah pasir. Kemudian ditemukan serpihan tulang, namun kami belum bisa mendiagnosa temuan tulang ini. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore, karena saking semangatnya saya dan tim hanya tinggal sendirian di lokasi, karena kelompok lain sudah pulang duluan kerumah. Walaupun begitu saya dan tim cukup menikmati ekskavasi hari ini. Malam harinya acara dilanjutkan dengan diskusi tiap kelompok sekaligus melaporkan hasil penggaliannya.

Pada hari kedua (senin) penggalian, saya dan tim meneruskan penggalian dari hari pertama, dimana kami akan mulai melakukan penggalian pada spit 4. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan temuan yang lebih banyak berdasarkan temuan spit sebelumnya. Setelah dilakukan penggalian ternyata tidak ditemukan apa-apa. Selain itu juga keadaan tanah mulai berair. Untuk itu setelah berkonsultasi, kami pun sepakat untuk menghentikan penggalian. Setelah tim beristirahat dengan cukup, akhirnya dilakukan penutupan penggalian dimana setiap tanah mulai diurutkan sesuai dengan spit masing-masing. Setelah selesai penggalian, saya menyempatkan diri untuk melihat rumah Banjar kuno, dimana lokasinya tidak begitu jauh dari tempat penggalian. Setelah berkeliling rumah dan masuk kedalamnya, saya terkagum-kagum karena fondasi rumah tersebut masih kokoh dan bangunan asli tetap dipertahankan. Tentunya sangat sulit ditemukan apabila kita berada di kota.

Hari terakhir (selasa), merupakan hari dimana saya dan rombongan bertolak kembali ke Banjarmasin. Setelah berpamitan dengan pemilik rumah yang kami tumpangi selama hampir 4 hari-an maupun dengan warga sekitar, mobil kami pun mulai berdatangan menjemput rombongan. Akhirnya pengalaman dan kenangan selama kurang lebih 4 hari di desa Balai Emas Kec. Simpur pun menjadi suatu rangkaian PKL yang tak terlupakan bagi saya pribadi, karena banyak pengetahuan dan hal-hal baru yang saya dapatkan, selain itu dengan adanya kegiatan ini diharapkan rasa persaudaraan dapat tumbuh di dalam mahasiswa sejarah khususnya.

Akhir kata saya tutup tulisan ini, dengan mengucapkan sampai jumpa pada PKL selanjutnya, semoga kita diberikan kesempatan untuk dapat bersama lagi….. Amien.

3 komentar:

septha49 mengatakan...

Yach Semoga Saja PKL ke depannya sesuai dengan kajian MK yang telah di berikan. Tidak Seperti PKL "Ekskavasi Situs Pantai Ulin".

M. Rizky Adha mengatakan...

@septha49 : Mungkin lebih bijaknya seperti ini mas septha, PKL kemarin ada beberapa poin positifnya. Di dalam mata kuliah kita apa ada tentang penjelasan ekskavasi secara rill? Teman2 yang pernah terlibat dalam ekskavasi apa salah memberikan pengetahuannya kepada teman2 yang belum tentu tau apa itu ekskavasi??? Pada hakekatnya kita sama2 belajar lah.. Jangan berpikir pada satu sudut pandang saja... Gimana mas septha? :-*

Anonim mengatakan...

Assalamualaykum wr wb Rizky
Salam kenal ya..Saya Fitri (22 th) alumni Ilmu Perpustakaan UI angkatan 2004. apakah Rizky muridnya Pak Bambang Subiakto (Ka. Perpus Unlam)? Bolehkah saya minta alamat email beliau? saya ada keperluan terkait bidang ilmu perpustakaan dengan beliau..Mohon bantuannya ya..
Terima kasih.
Wassalamualaykum wr wb

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Sudah Baca Postingan Yang Ini :

 
Powered by  MyPagerank.Net Add to Technorati Favorites Site Meter site statistics
© Copyright 2007-2008. Aha Blog . All rightsreserved | Aha Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Aha